Barito Timur

SEKOLAH DAN KEPUASAN KERJA GURU

In pendidikan on Mei 5, 2013 at 1:58 pm

Sekolah adalah satu kata yang lumrah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari berbagai kalangan memahami apa yang dimaksud dengan sekolah tersebut, pembedanya adalah persepsi pemahaman terhadap kata sekolah itu sendiri. Sekolah merupakan satuan pendidikan tempat penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, pemahaman lain menyebutkan sekolah adalah sebuah bangunan atau lembaga untuk belajar mengajar. Sekolah juga merupakan tempat memberi dan menerima pelajaran yang biasanya terdiri menurut tingkatnya. Apapun definisi tentang sekolah yang jelas didalamnya harus terdapat kegiatan proses belajar mengajar. Kegiatan proses ini dapat berjalan apabila terdapat salah satu komponen utamanya yaitu guru. Karena guru adalah pemegang kendaraan pendidikan. Pemahaman guru disampaikan oleh Zakiah Darajat “guru adalah pendidik profesional karena secara inflisit telah merelakan dirinya dengan memikul sebagian tanggungjawab pendidikan”. Sayangnya, tidak sejalan dengan pernyataan di atas dan dengan tidak bermaksud mengeneralisasikan semua guru yang ada dinegeri ini, pada kondisi nyata masih banyak guru yang mengidap penyakit berbahaya bahkan mematikan, penyakit ini menular melalui virus dengan penularan yang begitu cepat menyebar melalui iklim sekolah yang tidak sehat. Penyakit berbahaya ini: Pertama adalah guru sering tidak hadir kesekolah, kalau pun hadir hanya memberi catatan atau tugas lalu ditinggalkan tanpa pengawasan. Kedua, guru memasuki kelas tanpa membawa buku, lembar kerja siswa, alat peraga atau media belajar lainnya bahkan tidak membawa selembar kertas pun ditangannya. Ketiga, guru tidak memiliki literatur dalam arti luas yaitu sumber belajar atau informasi berupa internet, buku-buku pelajaran, buku referensi, jurnal, laporan ilmiah sampai majalah dan koran, yang dimiliki guru ini hanya buku sakral (baca: buku yang dipakai dari puluhan tahun silam dan tidak pernah diganti). Keempat, penyakit gagap teknologi, jangankan untuk memamfaatkan TIK sebagai media pembelajarannya, membuka dan menutup kompeter saja belum mampu. Kelima, guru yang bekerja karena terpaksa, mengajar dijadikan pelarian disebabkan tidak mampu mendapatkan pekarjaan lain. Keenam, guru yang menginginkan siswanya lulus waktu ujian nasional tapi malas mengajar, caranya dengan membantu jawaban anak-anak ketika ujian dilangsungkan. Fenomena klasik tersebut mengidentifikasikan ada permasalahan yang begitu vital dalam diri guru bersangkutan yaitu masalah motivasi dan kepuasan kerja guru. Motivasi merupakan dorongan atau gerak tenaga jiwa dan jasmani untuk berbuat, penyakit diatas ditampilkan dengan adanya rasa malas melakukan gerak baik secara jiwa maupun jasmaninya dalam melaksanakan beban tanggung jawab sebagai guru, hal ini sudah sangat jelas mengarah kepada rendahnya motivasi kerja. Sementara kepuasan kerja dikatakan Wexly dan Yukl dalam kalimat “the way an employee feels about his or job” kepuasan kerja adalah cara pekerja merasakan dirinya dan pekerjaannya. Perasaan puas dalam bekerja ditunjukkan dengan sikap positif guru terhadap pekerjaan dan yang dihadapi dilingkungan kerjanya, kepuasaan ini terjadi apabila kebutuahan individu sudah terpenuhi sesuai derajat kesukaan atau ketidaksukaan.
Meminjam teori dua faktor Herz Berg atau yang dikenal dengan teori motivasi dua faktor, dalam teori ini terdapat istilah dissatisfier-satisfier. Pada kondisi dissatisfer (higiene) terjadi apabila adanya rangkaian kondisi ekstrinsik -konteks pekerjaan- yang menimbulkan ketidakpuasaan antar pekerja bila kondisi tersebut tidak ada, jika kondisi tersebut ada, tidak selalu memotivasi pekerja. Pada kondisi ini faktor-faktor itu diperlukan hanya untuk mempertahankan, setidaknya satu tingkat dari tidak ada kepuasaan kerja. Faktor tersebut antara lain; gaji, keamanan pekerjaan, kualitas pengawasan dan hubungan interpersonal antara rekan kerja dengan atasan dan dengan bawahan. Kemudian pada kondisi satisfier (motivator) terjadi apabila rangkaian instrinsik -isi pekerjaan- ketika ada dalam pekerjaan dapat membentuk motivasi yang kuat, jika kondisi ini tidak ada pada pekerjaan terbukti tidak memuaskan. Faktor-faktor satisfier atau motivasi diantaranya adalah pencapain, pengakuan, tanggungjawab yang dipercayakan, kemajuan, pekerjaan itu sendiri dan kemungkinan untuk tumbuh.
Bersandar pada teori diatas dapat diilustrasikan hubungan antara faktor dissatisfier (higiene) dan satisfier (motivator) sebagai berikut:
 Seorang guru yang dibayar gajinya dengan baik, memiliki rasa aman, memiliki hubungan baik dengan rekan kerja dan atasan (faktor higiene ada = tidak ada kepuasan kerja bagi guru tersebut) lalu diberikan tugas yang menantang oleh atasan (ada motivator = ada kepuasan kerja maka guru akan termotivasi). Atasan seharusnya memberikan tugas menantang dan mentransfer tanggungjawab kepada guru bersangkutan. Dengan kenaikan gaji, keamanan kerja dan pengawasan tetap berlangsung.
 Seorang guru yang dibayar gajinya dengan baik, memiliki rasa aman dengan memiliki hubungan baik, rekan kerja dan atasan (faktor higiene ada = tidak ada kepuasan kerja bagi guru tersebut) tapi tidak diberikan penugasan yang menantang, guru merasa bosan dengan pekerjaannya (tidak ada motivator = tidak ada kepuasan kerja maka tidak ada motivasi). Atasan seharusnya mengevaluasi deskripsi pekerjaan guru dan memperluasnya dengan memberikan tugas yang lebih menantang dan lebih menarik. Dengan kenaikan gaji, keamanan kerja dan supervisi yang baik perlu diteruskan.
 Seorang guru yang gajinya tidak dibayar dengan baik, memiliki rasa aman yang rendah, memiliki hubungan yang buruk dengan rekan kerja dan atasan (faktor higiene tidak ada = tidak ada kepuasan kerja bagi guru tersebut) dan tidak diberikan penugasan yang menantang, guru merasa sangat bosan dengan pekerjaannya (tidak ada motivator = tidak ada kepuasan kerja maka tidak ada motivasi). Untuk mencegah rendahnya kinerja guru, absen kehadiran tinggi dan masalah lainya, Atasan seharusnya membuat perubahan drastis dengan menekankan faktor dissatisfier (higiene) dan satisfier (motivator).
Berdasarkan uraian diatas perlu ditekankan lagi bahwa guru puas dengan pekerjaannya apa bila mendapatkan faktor satisfier (motivator) sedangkan faktor dissatisfier (higiene) menimbulkan ketidakpuasaan antar pekerja bila kondisi tersebut tidak ada, jika kondisi tersebut ada, tidak selalu memotivasi pekerja.
Lalu, bagaimana dengan guru disekolah anda? apakah masih ada terdapat indikasi ketidakpuasan dalam bekerja. Jika iya, tugas pengawas dan kepala sekolah beserta unsur terkaitlah yang harus mengevaluasi faktor-faktor dissatisfier (higiene) dan satisfier (motivator) disekolah tersebut.
Penulis : Nurjanah (Guru SMPNegeri Satu Atap 1 Dusun Tengah)

  1. semoga teman-teman guru, dan bapak/ibu kepala sekolah membacanya sebagai bahan instropeksi diri

  2. Tulisan diatas..suara hati yang galau..
    semoga banyak ada yang membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: