Barito Timur

Pembelajaran Bertim Solusi Beban Kerja Guru

In pendidikan on Oktober 30, 2010 at 6:23 am

Pembelajaran bertim adalah pembelajaran yang dilaksanakan oleh lebih satu guru dalam satu kelas. Pembelajaran ini bukan dilaksanakan secara bergantiaan, namun dua orang guru(atau lebih) sekaligus melaksanakan dan merumuskan Rencana Pembelajarannya. Meetode yang akan disajikan dirumuskan secara bersama. Kekurangan dan kelemahan selalu didiskusikan pascapembelajaran secara bersama-sama.

Mengajar minimal 24 jam perminggu inilah yang sekarang menjadi persoalan besar bagi guru-guru dalam jabatan baik guru swasta maupun guru PNS. Hal ini dikarenakan oleh berbagai hal di antaranya sebelum turunnya Undang-Undang no. 14 tentang guru dan dosen serta Peraturan Pemerintah no. 74 tahun 2008 tentang guru bahwa guru dipersyaratkan mengajar minimal 18 jam pelajaran perminggu disamping itu memang ada hal-hal lain yang dapat menyebabkan beban tatap muka guru dalam mengajar menjadi kurang dari 24 jam pelajaran perminggu.

Menurut Pedoman Perhitungan beban mengajar guru yang dikeluarkan Direktorat Jendral PMPTK Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008 penyebab kekurangan jam mengajar tersebut antara lain adalah sebagai berikut: (1) Jumlah peserta didik dan rombongan belajar terlalu sedikit, (2)  jumlah Jam pelajaran dalam struktur kurikulum terlalu sedikit, (3) Jumlah guru di satu sekolah untuk mata pelajaran tertentu terlalu banyak, dan, (4) Sekolah pada daerah terpencil atau sekolah khusus yang kondisinya terjadi karena populasinya sedikit.

Dalam Buku Pedoman tersebut Pemerintah memberikan alternatif solusi bagi guru-guru yang jam tatap mukanya belum mencapai 24 jam perminggu diantaranya adalah dengan : (1) mengajar di sekolah atau madrasah lain baik negeri maupun swasta pada Kabupaten/kota yang sama sesuai mata pelajaran yang diampu, (2)  Menjadi Guru Bina/Pamong pada SMP Terbuka, (3) Menjadi Tutor pada program kelompok belajar Paket A, Paket B, dan Paket C.

Dalam pelaksanaannya, alternatif-alternatif tersebut banyak diabaikan oleh dinas pendidikan kota/kabupaten, sehingga banyak guru yang telah lolos sertifikasi melalui portofolio tetapi tidak menerima tunjangan profesi disebabkan oleh ketidakmampuan memenuhi kewajiban mengajar 24 jam/minggu.

Pada bulan Agustus 2009, terbit Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahub 2009, yang pada pasal 3 ayat 5 memberikan solusi kepada para guru yang tidak dapat memenuhi beban kerja 24 jam/minggu dapat memenuhi dengan: (1) mengajar mata pelajaran yang paling sesuai/serumpun atau matapelajaran yang tidak ada pengampunya, (2) mengelola taman bacaan, (3) menjadi tutor paket A, B, atau C, (4) menjadi guru bina/pamong pada sekolah terbuka, (5) menjadi pengelola program keagamaan, (6) mengelola Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), (7) sebagai guru/instruktur pada kegiatan MGMP/KKG, (8) memberikan kegiatan mandiri terstruktur dalam bentuk pemberian tugas kepada peserta didik, (9) membina siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, (10) membina pengembangan diri peserta didik, (10) kegiatan lain yang berkaitan dengan pendidikan masyarakat, (11) melaksanakan pembelajaran bertim (team teaching), dan/atau  (12) kegiatan pembelajaran perbaikan (remedial).

Di antara alternatif-alternatif tersebut, yang paling banyak dibicarakan adalah mengajar di sekolah lain dan pembelajaran bertim, di mana dinas pendidikan kabupaten/kota lebih cenderung menyarankan untuk alternative yang pertama, mengajar di sekolah lain, dan menolak atau menidakbolehkan pembelajaran bertim (team teaching) sebagai solusi penambahan beban mengajar.

Melaksanakan Team Teaching

Prinsip umum team teaching adalah, ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung di sebuah kelas, di situ ada lebih dari satu guru. Sebenarnya ada beberapa model team teaching, dan kemungkinan lebih dari satu model dapat di lakukan dalam satu jam pelajaran.

Team teaching tradisional adalah sebuah model dimana dua orang guru mengajar dalam satu kelas dan mereka berbagi tanggung jawab yang sama dalam mengajar pada siswa-siwanya dan secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran selama jam pelajaran berlangsung. Misalnya, salah satu guru melaksanakan pembelajaran, sedangkan guru yang satunya lagi menulis atau membuat catatan di papan tulis.  Sekali lagi, ini team teaching model tradisional. Model-model yang lebih menantang dan signifikan dapat meningkatkan mutu pendidikan, antara lain: (1) “Supported Instruction” adalah sebuah bentuk team teaching dimana salah seorang guru menyampaikan materi ajar dan satu guru lainnya melakukan kegiatan tindak lanjut dari materi yang telah disampaikan rekan satu timnya tadi, (2) “Parallel Instruction” adalah sebuah bentuk team teaching yang pelaksanaannya siswa dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing guru dalam kelas tersebut bertanggungjawab untuk mengajar masing-masing kelompok, (3) “Differencaiated Split Class” adalah team teaching yang pelaksanaannya dengan cara membagi siswa ke dalam dua kelompok berdasarkan tingkat ketercapaiannya. Salah satu guru melakukan pengajaran remedial kepada siswa yang tingkat pencapaian kompetensinya kurang (tidak mencapai KKM) sedang guru yang lain melakukan pengayaan kapada mereka yang telah mencapai dan/atau yang telah melampaui tingkat ketercapaian kompetensinya (mencapai atau melebihi KKM), (4) “Monitoring Teacher” adalah model lain dari team teaching. Model ini dilaksanakan dengan cara salah satu guru dipastikan melakukan peran sebagai pengajar yang memberikan pembelajaran di kelas, sedangkan yang lainnya berkeliling kelas memonitor perilaku dan kemajuan siswa.

Di dalam satu jam pelajaran team teaching dapat diterapkan lebih dari satu model yang berbeda dari model-model team teaching yang telah disebutkan di atas tadi.

Dampak Positif Team Teaching

Dalam team teaching sekelompok guru, bekerja bersama-sama, merencanakan, melakukan proses pembelajaran, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran kepada sekolompok siswa (satu kelas). Maka setidaknya, kelemahan dalam hal tertentu pada diri seorang guru, dapat ditutup oleh guru yang lain.

Dalam prakteknya, team teaching mempunyai format yang berbeda-beda tetapi pada umumnya team teaching merupakan strategi dalam mengorganisasikan guru, sehingga dapat memacu percepatan dan peningkatan mutu  pembelajaran.

Kelompok atau team terdiri atas guru-guru yang  mempunyai kompetensi dan keahlian yang mungkin saja berbeda, tapi mereka harus bergabung dalam satu team work untuk merencanakan dan melaksanakan pembelajaran pada jam pelajaran dan kelas atau rombongan belajar yang sama. Untuk memfasilitasi proses ini ruang kelas yang biasa diergunakan dapat ditata sedemikian rupa sehingga menyenangkan.

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh sekelompok penulis yang tergabung dalam State University Amerika yang mengatakan bahwa team dapat terdiri atas satu mata pelajaran saja atau pun interdisiplin, artinya terdiri atas lebih dari satu mata pelajaran, atau bahkan team dapat terdiri dari guru yang berasal dari sekolah yang berbeda.

Sebuah team dapat pula menggabungkan guru baru dengan guru yang sudah berpengalaman, sehingga dapat terjadi levelling mechanisme, guru baru dengan sengaja atau tidak sengaja belajar kepada guru yang sudah berpengalaman.

Idealnya dalam sebuah team teaching, guru-guru yang terlibat memunculkan inovasi-inovasi pembelajaran, atau  memodifikasi jumlah siswa dalam satu kelas, lokasi belajar, dan alokasi waktu yang telah ditentukan sejauh tidak menyalahi aturan.  Kepribadian guru,  suara, nilai-nilai yang dibawakan oleh lebih dari satu guru, dalam sebuah kegiatan belajar-mengajar,  dan juga pendekatan yang berbeda-beda serta variasi penggunaan media akan menjadi menarik perhatian para peserta didik, dan dapat menghindari kebosanan.  Sehingga harapannya,  dengan team teaching akan menanambah efektifitas dan efisiensi pembelajaran .

Dalam pelaksanaan team teaching, guru guru yang tergabung haruslah kompak dan tidak mementingkan dirinya sendiri, harus saling bekerja sama, mendiskusikan pembelajaran, mulai dari penyusunan silabus, pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pemilihan materi ajar, penentuan atau pembuatan media pembelajaran yang efektif, penentuan metode pembelajaran yang cocok untuk materi yang disepakati serta menyusun penilaian untuk proses pembelajaran maupun hasil belajar.

Dengan adanya kerjasama yang saling menguntungkan antara guru yang tergabung dalam team teaching tersebut yang seluruh anggota teamnya berkonsentrasi untuk membuat siswa belajar secara efektif, inovatif, kreatif, menantang dan menyenangkan, maka pekerjaan guru secara individu akan semakin ringan dan pembelajaran akan semakin tidak membosankan siswa, sebab pekerjaan yang dilakukan oleh satu team akan lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan individu.

Kelemahan dari Team Teaching

Dalam melaksanakan team teaching para guru dituntut untuk mempunyai waktu ekstra dalam sinkronisasi pemikiran, pendapat dan ide-ide cemerlang agar dalam menghadapi kelas mereka adalah satu kesatuan yang kompak dan solid, dan ini perlu pembiasaan serta kedisiplinan yang tinggi. Sebab apabila salah satu anggota team tidak disiplin dan tidak mau berbagi pengalaman maka akan rusaklah team teaching yang dibentuk tersebut.

Jadi, memang tidak selamanya team teaching itu akan sukses atau berhasil, tentunya ada beberapa kelemahan dari team teaching. Di antara kelemahan-kelemahan tersebut muncul karena anggota team sendiri.

Beberapa kelemahan team teaching😦 Asman: 2010)(1) sebagian guru resisten terhadap satu macam metode pengajaran saja yaitu pengajaran single teacher teaching sehingga team teaching dirasakan suatu hal yang mengungkungnya, (2) Sebagian guru tidak suka dengan anggota teamnya sehingga hal ini akan menghambat kerjasama diantara anggota team, (3) Sebagian lainnya merasa bahwa mereka bekerja lebih banyak dan lebih keras, namun gajinya sama dengan anggota teamnya yang nota bene bekerjanya lebih malas, (4) Ada pula yang tidak mau berbagi ilmu dengan anggota teamnya, karena mereka merasa susah untuk mendaptkan ilmu tersebut sehingga mereka menikmatinya sendiri, (5) team teaching memerlukan energi dan pemikiran lebih banyak dibanding dengan mengajar secara individu.

Mungkin masih ada lagi kelemahan kelemahan yang lain, namun penulis yakin bahwa kelemahan-kelemahan tersebut dapat diatasi sejauh seluruh anggota team dan mereka yang ada di luar team –mungkin pimpinan sekolah dan juga pihak-pihak yang berwenang mengambil keputusan– menyadari bahwa team teaching akan lebih baik dari individual teaching,  maka kelemhan-kelemahan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Menyimak beberapa kelemahan di atas, nampak bahwa letak kelemaahan adalah pada guru, bukan model pembelajarannya. Menurut saya model ini perlu dijadikan sebagai solusi untuk memenuhi beban kerja 24 jam bagi guru. Sungguh sebuah ironi jika yang dilakukan sekolah ternyata hanya melakukan manipulasi SK. Guru yang hanya mengajar 16 jam di SK-kan 24 jam. Output seperti apa yang kita harapkan jika secara lembaga manipulasi dan korupsi telah ditumbuhkembangkan?

  1. sebuah solusi, namun kadang terabaikan oleh guru-guru yang seharusnya tidak mengabaikannya. (nah….lho..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: