Barito Timur

Kompetensi Berbahasa Guru Kita

In pelatihan on Oktober 30, 2010 at 7:24 pm

Naufal Nuha Ardhana, siswa SMPN 1 Dusun Tengah , pasti gembira ketika artikelnya dimuat di situs forumborneo.com. Dengan itu dia bisa menyejajarkan diri dengan para guru yang pernah mengisi situs ini. Dari perspektif penumbuhan iklim pendidikan yang demokratis, cara NAUFAL mengemukakan gagasan jauh lebih elegan daripada sekadar berorasi dalam aksi demonstrasi. Dengan gagasan tertulis, aspirasinya lebih artikulatif dan mudah dicerna anak-anak seusia dia. Dampaknya juga lebih bergema, lebih dokumentatif, dan karena itu lebih monumental dibanding aksi demonstrasi yang hanya tampak ‘gemebyar’ dalam sesaat.

Lebih menarik lagi, dari perspektif pembelajaran bahasa, NAUFAL telah mencapai kompetensi berbahasa yang tinggi, melampaui tuntutan minimal kurikulum bahasa, walaupun dia menyajikan dengan gaya berbahasa masa kini. Menilik sumber rujukan artikelnya (walupun pura-pura -red), kemampuan membacanya sangat baik. Ia pun dapat memanfaatkan informasi dari berbagai sumber itu menjadi tulisan yang baik.

Kontras dengan prestasi NAUFAL adalah ironi berikut ini. Di Sekolah tempat dia belajar terdapat banyak guru yang memiliki sertifikat profesional. Fasilitas komputer dan jaringan internet di tempat Noufal belajar cukup memadai. Guru yang bersedia membantu untuk mengenal dan memahami teknologi informasi.

Akan tetapi, sampai artikel ini dibuat, hanya ada beberapa guru saja yang telah memiliki blog dan menuangkan ide-idenya melalui blog, sebagian besar masih buta teknologi. Jadi, jangankan menerbitkan tulisan di blog, menulis pun rupanya belum dimulai. Padahal, maksud pembuatan blog tersebut untuk mengakomodasi kegamangan guru dalam menghadapi keangkeran redaktur media massa yang selama ini ditakuti.

Tanpa bermaksud menjeneralisasikan, fakta tersebut menjadi petunjuk masih rendahnya penguasaan kompetensi berbahasa di kalangan guru. Padahal, kompetensi berbahasa merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap guru. Karena, setiap guru menyampaikan pelajaran dalam Bahasa Indonesia, maka semua guru sebenarnya juga berstatus guru bahasa. Karena itu, harus memiliki kompetensi berbahasa.

Bila kompetensi berbahasa mencakupi kemampuan menyimak, membaca, wicara, dan menulis, maka yang paling dikuasai guru umumnya hanya kompetensi berbicara. Ini pun mungkin hanya terbatas pada kemampuan “menjelaskan”. Seorang guru biasanya mampu berbicara berjam-jam di depan siswanya. Dengan kata lain, guru sangat mahir mendemonstrasikan metode ceramah dalam penyampaian bahan belajar.

Akan tetapi, keadaannya jauh berbeda dengan kompetensi membaca dan menulis. Guru masih gagap ketika ditanyakan koleksi bacaannya, apalagi soal tulis-menulis.

Andaikata pada setiap sekolah terdapat satu orang NAUFAL, kita pasti bangga. Akan tetapi, pada saat yang sama kita harus menanggung malu karena kompetensi berbahasa kita masih rendah. Oleh karena kurikulum baru ini (KTSP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) mempersyaratkan tingkat kompetensi guru yang memadai, sejak sekarang setiap guru, yang diasumsikan juga berstatus guru bahasa, harus mulai meningkatkan kompetensinya itu.

SEJAK Kongres Bahasa Indonesia III merekomendasikan perlunya menjadikan kemahiran berbahasa Indonesia sebagai salah satu prasyarat keprofesian dan kepegawaian, sebetulnya telah banyak upaya yang dilakukan. Selain fasilitas Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang disediakan oleh Pusat Bahasa, serangkaian penataran telah diadakan oleh pemerintah.

Sudah jamak bila di setiap penataran wacana yang berkembang adalah kapan selesai dan berapa honor yang didapat. Tampaknya, penataran masih diasosiasikan sebagai proyek dan bukan upaya peningkatan kompetensi berbahasa di kalangan guru.

Karena itu, jika penataran dianggap tidak efektif, maka setiap guru mesti berinisiatif mengembangkan diri secara otodidak. Tampaknya pencapaian kompetensi (berbahasa) lebih banyak ditentukan oleh ketekunan dan kesabaran dalam membangun kebiasaan membaca dan menulis, bukan oleh penataran yang berpola monoton. Ketekunan akan melahirkan keterampilan berbahasa, sedangkan penataran hanya menambah pengetahuan tentang bahasa.

  1. sayangnya gak ada guru yang baca, jadi tulsan ini tidak lebih dari sekedar macan ompong

  2. boro-boro baca pak, lhawong lebih 60% gak ngerti internet. dari yang ngerti internet 90% untuk fesbukan dan nyari yang hot-hot

  3. Seger artikelnya Om Bud. He.. Guru serba guna, he..

  4. setuju pak mendingan kita belajar otodidak, jika pakai acara pelatihan hasilnya biasanya nol besar. Padahal seharusnya jika ada pelatihan guru, guru yang ditunjuk bisa memberi pencerahan pada rekan sejawat. Jika kita Online kita bisa berdiskusi sesama guru seluruh indonesia. salam kenal dari kapuas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: